BudidayaBawang Merah (Allium cepa var. bauji) Menggunakan Ukuran Umbi Sedang di UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (PATPH) Lebo Sidoarjo, Nur Khilmiatus Sa’adah, Nim A31180588, Tahun 2021, 5 Hlm, Produksi Pertanian, Politeknik Negeri Jember, Refa Firgiyanto, Sp, M.Si (Dosen Pembimbing) dan Faridah, S.P, M.Agr (Pembimbing
ManfaatBawang. Bawang merah memiliki akar serabut yang memanjang hingga 10 cm atau lebih di permukaan tanah, berubah warna menjadi kecoklatan seiring bertambahnya usia dan masih sedikit kotor keputihan. Akar tanaman berumbi ini dapat mencapai kedalaman sekitar 30 cm dan mempunyai tugas menyerap air dari dalam tanah.
86JURNAL FARMASI MALAHAYATI Vol 5 No 1, Maret 2022 UJI EFEKTIVITAS KOMBINASI UMBI BAWANG DAYAK (ELEUTHERINE PALMIFOLIA (L.) MERR) DAN DAUN INSULIN (TITHONIA DIVERSIFOLIA) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) DIINDUKSI NA 2 EDTA Yoga Purnama Haidir1,
Welcome Log into your account. your username. your password
menyebabkankeracunan tanaman bawang merah dan efektif dalam mengendalikan gulma pada tanaman bawang merah. Penelitian Wulandari, et al. (2016) menunjukkan bahwa penyiangan 2 kali pada berbagai jarak tanam tanaman bawang merah dapat menghasilkan bobot umbi per tanaman lebih baik dari pada tanpa penyiangan. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Cara Membuat Sambal Kacang, Unsplash/Albert Vincent WuSambal merupakan salah satu menu makanan tambahan yang banyak dikonsumsi manusia. Cara membuat sambal kacang di rumah menjadi salah satu cara yang memudahkan pengguna untuk menghasilkan sambal kacang. Mengutip dari jurnal Bumbu kacang, saus kacang, kuah kacang, sambal kacang, atau bumbu pecel adalah semacam saus berbumbu berbahan kacang tanah goreng yang digiling dan Membuat Sambal Kacang Cara Membuat Sambal Kacang, Foto Unsplash/Albert Vincent WuKali ini Tips dan Trik akan memberikan beberapa cara membuat sambal kacang dengan mudah hanya di rumahCara Membuat Sambal Kacang Original 10 buah cabai rawit merah sesuai seleraPanaskan minyak, goreng kacang hingga kacang bersama bawang merah, bawang putih, dan cabai hingga minyak, masukkan kacang, tambahkan air dan daun jeruk, aduk kembali hingga minyak dari kacang Membuat Sambal Kacang PedasKacang tanah, cabai, bawang putih digoreng dulu. Lalu masukkan 1 gelas air matang, semua bahan diblender jadi satu. Kecuali jeruk diblender. Aduk rata. Tambahkan air 1 gelas. Test rasa. Sesuaikan dengan kekentalan atau keenceran tekstur sambal yang diinginkan. Terakhir peras air jeruk nipis ke dalam sambal kacang. Aduk rata. Membuat Sambal Kacang Tomat Terasi yang sudah digorengGoreng kacang sampai kecokelatan, cabai, bawang merah, dan bahan yang sudah digoreng tersebut ke dalam cobek dan garam, terasi, dan air beberapa cara membuat sambal kacang yang enak di rumah dengan bahan yang mudah di dapatkan. Cobalah resep di atas. Pastikan mengikuti langkah-langkahnya!
The research aims to assess the response to the growth and production of onion against of liquid organic fertilizer from cow biourie in some concentrations and to get the best concentration for the growth and production of red onion. The research was conducted atfield experimental in Pandu, North Minahasa regency from May to July 2014. The experiment was designed using a randomized block design. The treatment was concentration of cow biourine namely 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% and B5 50%. Each treatment was replicated three times. Characters observed were plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Data was analyzed using analysis of variance. The result showed that the biourine concentration had significant effect on plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Treatment of B1, B2, B3 and B4 concentration were not significant difference at plant height. However, those four treatments were significantly different compared to B0 and B5. The fives treatment differed with the control on characters of number of leaves, number of tuber andfresh weight of tuber with leaves. On character of tuber dry weight, B2 treatment was significant difference compared to control whereas the other treatments were not significantly differed. On character of tuber diameter, three treatments were significant difference compared to the control namely B2, B4 and B5. Keywords Allium ascalonicum L, biourine cow, fertilizer, growth and production Figures - uploaded by Jeanne Martje PaulusAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Jeanne Martje PaulusContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 142 PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAWANG MERAH Allium ascalonicum L. BERBASIS APLIKASI BIOURINE SAPI GROWTH AND PRODUCTION OF ONION Allium ascalonicum L. BASED ON APPLICATION OF COW BIOURINE Olvie G. Tandi1, Jeanne Paulus2 dan Arthur Pinaria2 1Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara 2Fakultas Pertanian Unsrat Manado, 95115 ABSTRACT The research aims to assess the response to the growth and production of onion against of liquid organic fertilizer from cow biourie in some concentrations and to get the best concentration for the growth and production of red onion. The research was conducted atfield experimental in Pandu, North Minahasa regency from May to July 2014. The experiment was designed using a randomized block design. The treatment was concentration of cow biourine namely 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% and B5 50%. Each treatment was replicated three times. Characters observed were plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Data was analyzed using analysis of variance. The result showed that the biourine concentration had significant effect on plant height, number of leaves, tuber diameter, number of tuber, fresh weight of tuber with leaves and dry weight of tuber. Treatment of B1, B2, B3 and B4 concentration were not significant difference at plant height. However, those four treatments were significantly different compared to B0 and B5. The fives treatment differed with the control on characters of number of leaves, number of tuber andfresh weight of tuber with leaves. On character of tuber dry weight, B2 treatment was significant difference compared to control whereas the other treatments were not significantly differed. On character of tuber diameter, three treatments were significant difference compared to the control namely B2, B4 and B5. Keywords Allium ascalonicum L, biourine cow, fertilizer, growth and production ABSTRAK Penelitian bertujuan mengkaji respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemberian pupuk organik dari biourine sapi pada berbagai konsenrtasi dan mendapatkan konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan di Pandu, Kabupaten Minahasa Utara dari Mei hingga Juli 2014. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan acak konsentrasi biourine sapi yaitu 0% B1 10%, B2 20%, B3 30%, B4 40% dan B5 50%.Setiap perlakuan diulang tiga kali. Karakter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter umbi, jumlah umbi, berat umbi segardengan daun dan berat umbi kering. Data dianalisis menggunakan analisis varian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi biourine memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter umbi, jumlah umbi, berat umbi segardengan daun dan berat umbi kering dengan daun. Perlakuan konsetrasi B1, B2, B3 dan B4 tidak ada perbedaan yang signifikan pada tinggi tanaman. Namun, empat perlakuan berbeda secara signifikan dibandingkan dengan B0 dan B5. Lima perlakuan berbeda nyata dengan kontrol pada karakter jumlah daun, jumlah umbi dan berat segar umbi dengan daun. Pada karakter berat umbi kering dengan daun, perlakuan B2 berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kontrol sedangkan perlakuan lainnya tidak berbeda secara signifikan. Pada karakter diameter umbi, tiga perlakuanyaitu B2, B4 dan B5memberikan pengaruh yang signifikan dibanding dengan kontrol. Kata kunci Allium ascalonicum L, biourine sapi, pemupukan, pertumbuhan dan produksi Volume 21 No. 3 Oktober 2015 143 PENDAHULUAN Bawang merah Allium ascalonicum L. merupakan salah satu komoditas utama sayurandi Indonesia dan mempunyai banyak manfaat. Bawang termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubtitusi yang berfungsi sebagai bumbu pe-nyedap makanan serta bahan obat tradisional. Ber-dasarkan data dari the National Nutrient Database bawang merah memiliki kandungan karbohidrat, gula, asam lemak, protein dan mineral lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh manusia Waluyo dan Sinaga, 2015 . Pengembangan bawang merah di Sulawesi Utara tersebar di beberapa kabupaten dan kota seperti Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Minahasa Utara, Bolaang Mongondow, Bolang Mongondow Timur, Kota Kotamobagu dan Kota Bitung. Daerah-daerah ini tersebar di dataran rendah sampai dataran tinggi atau memiliki ketinggian tempat dari 0 – 800 mdpl Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, 2014. Keberadaan hewan ternak di Sulawesi Utara, sebagian besar belum dikelola sesuai per-untukannya dan terkesan dipelihara secara liar ada yang diikat/dilepas pada lahan-lahan kosong. Ber-dasarkan hal tersebut di atas, maka dipandang perlunya sistem pertanian terpadu antara ternak dan sayuran yang dapat diterapkan di kawasan ini. Pertanian terpadu hortikultura dan ternak dapat mengurangi biaya produksi karena sisa sayuran akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedang-kan kotoran ternak dapat dijadikan pupuk organic bagi tanaman hortikultura. Produksi umbi bawang merah dengan daun tahun 2012 di Sulawesi Utara sebesar 5,301 ton dengan luas panen sebesar 680 hektar dan rata-rata produktivitas sebesar 7,80 ton/ha. Pada tingkat Nasional, rata-rata produksi bawang merah mencapai 10,7 t/ha. Potensi hasil di tingkat Balai Penelitian Sayuran Balitsa Lembang untuk dua varietas Sembrani dan ditanam pada kebun visitor plot. Varietas Sembrani, potensi hasil 9,0-24,4 ton/ha, dan dapat beradaptasi dengan baik di dataran rendah dengan altitude 6-80 m dpl. Sedangkan varietas Trisula potensi hasil ton/ha Badan Litbang Pertanian, 2013b. Berdasar-kan data tersebut di atas menunjukkan produksi rata-rata bawang merah di Sulawesi Utara masih jauh berbeda dibandingkan dengan rata-rata Nasional maupun di tingkat Litbang Pertanian dan produksi masih berpeluang untuk dapat ditingkat-kan. Beberapa penelitian yang memanfaatkan biourine sapi sebagai pupuk organik yang dikom-binasikan dengan pupuk anorganik dapat mening-katkan hasil tanaman. Menurut Sutari 2010 bahwa biourine sapi dengan konsentrasi 200 ml/ha air menunjukkan hasil tanaman sawi hijau yang paling baik. Penelitian Adijaya 2008, kombinasi pupuk organik padat dan pupuk organik cair RB 5 t ha-1 + 7500 l ha-1 urine sapi, konsentrasi 20% memberi-kan produksi bawang merah tertinggi sebesar 10,37 ton ha-1 atau meningkat sebesar 60,77% dibanding-kan dengan tanpa pupuk organik. Penelitin ini bertujuan mengkaji respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pemberian pupuk organik dari biourine sapi pada berbagai konsentrasi dan mendapatkan konsetrasi biourine sapi terbaik untuk pertumbuhan dan produksi bawang merah. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Pandu selama tiga bulan terhitung mulai bulan Mei 2014 sampai dengan Juli 2014. Bahan digunakan pada penelitian ini yaitu bawang merah varietas Bima yang diperoleh dari pedagang benih di Pasar Bersehati Manado, pupuk Ponska, SP-36, Pupuk kotoran ayam, dan bahan untuk membuat biourie sapi urea, EM-4, temu-lawak, kunyit, jahe, gula pasir dan urin sapi segar. Alat yang digunakan berupa cangkul, sekop, meteran, timbangan, gelon sebagai wadah urine sapi, drum plastik berkapasitas 200 liter, gelas ukur, ember plastik, gembor, kamera dan alat tulis menulis. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok RAK. Susunan perlakuan terdiri atas 6 perlakuan dan 3 ulangan sehingga terdapat 18 plot dengan ukuran 4 m x 1,2 m. Masing-masing per-lakuan konsentrasi biourine adalah sebagai berikut Tandi, dkk. Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah ……….…….. 144 Kontrol B0, 10% B1, 20% B2, 30% B3, 40% B4 dan 50% B5. Prosedur Kerja Tahapan yang dilakukan dalam pelaksana-an penelitian ini adalah sebagai berikut Persiapan Kegiatan di awali dengan proses pembuatan urine segar menjadi biourine lewat fermentasi. Me-nurut Pustaka Indonesia 2008 proses pembuatan urine menjadi biourine dengan proses fermentasi 1 EM-4 sebagai stater fermenter 250 ml, gula pasir 1 kg, urea 1 kg dilarutkan dalam air jernih se-banyak 10 liter kemudian masukkan ke dalam drum yang berisi urine segar sebanyak 150 liter. 2 Lengkuas, kencur, kunyit, temulawak dan jahe masing-masing 0,5 kg dihancurkan dan masukan juga ke dalam drum urine. Setelah tercampur ke-mudian urine diaduk sampai rata selama 15 menit, kemudian drum plastik ditutup rapat. 3 Lakukan pengadukan setiap hari selama 15 menit dan kemudian drum ditutup rapat kembali selama tujuh hari. 4 Setelah tujuh hari urine dipompa dengan menggunakan pompa yang biasa dipakai pada aquarium untuk meniriskan urine dan dilewatkan melalui talang plastik dengan panjang 2 m yang dibuat seperti tangga selama 3 jam, tujuan proses ini untuk penipisan atau menguapkan kandungan gas amoniak, agar tidak berbahaya bagi tanaman yang akan diberi pupuk biourine tersebut. Kemu-dian pupuk cair ini siap digunakan. U rine sapi se-belum difermentasi warnanya coklat kekuning-kuningan, baunya masih berbau urine, tetapi se-telah difermentasi menjadi biourine warnanya ber-ubah menjadi coklat kehitam-hitaman, dan sudah tidak berbau urine. Pengolahan Tanah Lahan pertanian dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu lainnya, kemudian diolah sampai gembur menggunakan traktor. Setelah itu dibuat plot percobaan ukuran 4 m x 1,2 m dengan ketinggian 20-30 cm, jarak antar bedengan adalah 40 cm. Luas plot percobaan adalah 4,8 m2. Pemupukan Pupuk dasar berupa pupuk kandang dari kotoran ayam 20 ton/ha diberikan 2 minggu se-belum penanaman sebanyak 9,6 kg/plot dan pupuk anorganik berupa ponska 300 kg/ha atau 144 g/plot diberikan 2 kali yaitu saat penanaman dan saat tanaman berumur 15 hst dan SP-36 100 kg/ha atau 48 g/petak diberikan saat penanaman atau pupuk dasar. Penamaman Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dengan kedalaman 3-5 cm dan tiap lubang diisi 1 siung bawang. Bawang di tanam menggunakan jarak 20 x 20 cm Muku, 2002. Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap hari dengan menggunakan gembor atau menyesuaikan dengan kondisi cuaca saat penanaman. Penyulaman Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 7-10 hari sesudah tanam. Tujuannya untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/mati. Ap likas i Bio u rine Biourine diberikan dalam bentuk beberapa konsentrasi sesuai perlakuan penelitan telah di-encerkan terlebih dahulu dengan air dan jumlah takaran yang diberikan adalah 7000 liter/ha Adijaya, 2008 atau 3,6 liter/plot. Pengambilan Sampel dan Pengamatan Karakter yang diamati adalah 1 Tinggi tanaman dilakukan mulai dari pangkal batang sampai ujung daun tertinggi yang diluruskan secara vertikal ke atas. Di ukur pada saat tanaman me-masuki umur panen; 2 Jumlah daun dengan cara menghitung jumlah daun per tanaman pada setiap perlakuan; 3 Diameter umbi bawang diukur dengan menggunakan jangka sorong pada saat panen; 4 Jumlah umbi bawang per petak dihitung pada saat panen; 5 Berat segar umbi dengan daun per petak ditimbang saat panen; 6 Berat umbi kering dengan daun per petak ditimbang setelah umbi dikering anginkan selama 2 minggu. Volume 21 No. 3 Oktober 2015 145 Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan jika terda-pat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil BNT pada taraf signifikan 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman cm Berdasarkan hasil analisis sidik ragam p ABSTRACT The use of inorganic fertilizers to increase crop productivity can be suppressed by switching it to organic fertilizers. The abundance of cow urine waste can be used as organic fertilizer and to be used as biourine. This study was aimed at determining the effect of biofertilizers and molasses toward biourine quality and its effect on productivity of pakchoy. This research was conducted in UPT Compost Brawijaya University, and glasshouses in Sukapura Village, Probolinggo in August to November 2016. This research consisted of two steps. First production of biourine with the addition of organic material such as molasses, biofertilizers, and empon-empon namely turmeric, galangal, and Kaempferia galanga, which consists of 12 treatments with 3 replications arranged in a completely randomized design, and application of biourine on pakchoy consisting of 6 treatments control, doses of 200, 300, 400, 500, and 600 ml L-1 with three replications. The results of first step showed E1 treatment 10 L biourine + 30 ml + 750 ml molasses can improve N-total 860%, organic matter 282%, and population of microbe 1229% . The best biourine in first research E1 treatment was applied with dose 600 ml L-1 showed the best result. It showed to increase the number of leaves as much as 48% and the fresh weight of pakchoy by 405% when compared to no biourine treatment. Keywords biofertilizer, inceptisols, soil health, and population of microbe ABSTRAK Penggunaan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas tanaman dapat ditekan dengan beralih menggunakan pupuk organik. Melimpahnya limbah urin sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan dijadikan biourin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk hayati dan molase terhadap kualitas biourin dan pengaruhnya terhadap produktivitas pakchoy. Penelitian dilakukan di UPT Kompos Universitas Brawijaya, dan rumah kaca di Desa Sukapura, Probolinggo pada bulan Agustus sampai Nopember 2016. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap, pertama pembuatan biourin dengan penambahan bahan organik berupa molase, pupuk hayati, dan empon-empon kunyit, lengkuas, dan kencur yang terdiri dari 12 taraf perlakuan dengan 3 ulangan pada Rancangan Acak Lengkap, dan kedua pengaplikasian biourin pada tanaman pakchoy yang terdiri dari 6 taraf perlakuan kontrol, dosis 200, 300, 400, 500, dan 600 ml L-1 dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian tahap pertama menujukkan perlakuan E1 10 L urin + 30ml pupuk hayati + 750ml molase mampu meningkatkan N-total 860%, bahan organik 282%, dan populasi mikroba sebesar 1229%. Aplikasi biourin terbaik pada penelitian tahap 1 perlakuan E1 dengan dosis 600 ml L-1 pada tanaman pakchoy menunjukkan hasil terbaik, ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah daun sebanyak 48% dan bobot basah tanaman sebesar 405% jika dibandingkan tanpa pemberian biourin. Kata kunci inceptisol, kesuburan tanah, mikroba, dan pupuk organik cair 1 umbi bawang merah menghasilkan